Page

Rabu, 27 Agustus 2014

Tafsir Surat Al-Ikhlash

TAFSIR SURAT AL-IKHLASH


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin




Bismillahirrahmaanirrahiim

Allah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Dialah Allah, Yang Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
“Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan” [Al-Ikhlash : 2]
“Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan” [Al-Ikhlash : 3]
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

Mengenai “basmalah” telah berlalu penjelasannya.

Sebab turunnya surat ini adalah, ketika orang musyrik atau orang Yahudi berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Beritakan kepada kami sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini [1]

Qul = “Katakanlah”. Pernyataan ini ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. “Huwa Allahu ahad” = “Dialah Allah Yang Maha Esa”. Menurut ahli I’rab, huwa adalah dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah Allah khabar mubtada dan “Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu Ash-Shomad’ kalimat tersendiri. “Allahu Ahadun” Yakni, Dia adalah Allah yang selalu kamu bicarakan dan yang selalu kamu memohon kepada-Nya. “Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan-Nya, yang tiada bandingan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan. “Allahu Ash-Shomad” adalah kalimat tersendiri Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dia Ash-Shomad. Makna yang paling mencakup iallah Dia mempunyai sifat yang sempurna yang berbeda dengan semua mahkhluk-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ash-Shomad ialah yang sempurna Keilmuan-Nya, Yang sempurna Kesantunan-Nya, Yang sempurna Keagungan-Nya, Yang sempurna Kekuasaan-Nya. Sampai akhir perkatan-Nya [2]. Ini artinya bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan makhluk karena Dia Maha Sempurna. Dan juga tertera dalam tafsir bahwasanya As-Shamad ialah yang menangani semua urusan makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa seluruh makhluk sangat bergantung kepada Allah Ta’ala. Jadi, arti yang paling lengkap ialah : Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya dan seluruh makhluk sangat bergantung kepada-Nya.

“Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza wa Jalla tidak mempunyai anak karena Dia adalah Dzat Yang Maha Muali dan Maha Agung, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Seorang anak adalah sempalan dan bagian dari orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

“Artinya : Ia adalah bahagian dari diriku” [3]

Allah Azza wa Jalla tidak ada yang serupa dengan-Nya. Anak merupakan salah satu kebutuhan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan dunia maupun untuk menjaga kesinambungan keturunan. Allah Azzan wa Jalla tidak memerlukan itu semua. Dia juga tidak dilahirkan karena tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak memerlukan seorang dari makhluk-Nya. Allah telah mengisyaratkan bahwa mustahil bagi-Nya mempunyai anak, seperti dalam firman-Nya.

“Artinya : Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri ? Dia menciptakan segala sesuatu ‘ dan Dia mengetahui segala sesuatu” [Al-An’am : 101]

Seorang anak membutuhkan orang yang melahirkannya.

Demikianlah, Allah adalah Dzat Yang Menciptakan segala sesuatu. Jika Allah menciptakan segala sesuatu berarti Dia terpisah dari makhluk-Nya.

Dalam firman-Nya : Lam yaalid” = “tidak beranak” merupakan bantahan terhadap tiga kelompok anak Adam yang menyimpang. Mereka adalah orang Musyrik, orang Yahudi dan orang Nasrani. Orang musyrik meyakini bahwa malaikat yang mereka itu ‘Ibadur Rahman’ berjenis perempuan. Mereka mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah anak perempuan Allah. Orang Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah anak Allah, dan orang Nasrani mengatakan Al-masih adalah anak Allah. Kemudian Allah mengingkari mereka semua dengan firman-Nya “Lam yaalid wa lam yuu lad” = “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan”, karena Allah Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Pertama, tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Dia dilahirkan.

Firman Allah.

“Artinya : Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

Yaitu tidak ada sesuatu pun yang menyamai seluruh sifat-sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan Dirinya mempunyai ayah atau Dia dilahirkan atau ada yang semisal dengan-Nya.

Sureat ini mempunyai keistimewaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Bahwa ia (surat Al-Ikhlash) menyamai sepertiga Al-Qur’an” [4]

Surat ini menyamai sepertiga Al-Qur’an tetapi tidak dapat menggantikan sepertiga Al-Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau seorang membaca surat ini sebanyak tiga kali di dalam shalat, masih belum mencukupi sebelum ia membaca surat Al-Fatihah. Padahal jika ia membacanya tiga kali, seolah-olah ia membaca semua Al-Qur’an, tetapi tidak dapat mencukupinya. Jadi, kamu jangan heran ada sesuatu yang sebanding tetapi tidak mencukupi. Misalnya sabda Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa membaca :

“Artinya : Tiada ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”

Seakan-akan ia telah membebaskan empat orang budak dari keuturunan Isma’il atau dari anak Ismail” [5]

Padahal jika ia berkewajiban untuk membebaskan empat orang hamba, dengan mengatakan dzikir ini saja tidak cukup untuk membebaskan dirinya dari kewajiban membebaskan hamba tersebut. Oleh karena itu, sam bandingnya sesuatu belum tentu dapat menggantikan posisi yang dibandingkan.

Surat ini dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada raka’at kedua shalat sunnah Fajr, shalat sunnah Maghrib dan shalat sunnah Thawaf [6]. Begitu juga beliau membacanya dalam shalat witir [7], karena surat ini merupakan landasan keikhlasan yang sempurna kepada Allah, inilah sebabnya dinamai dengan surat Al-Ikhlash.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad (5/133), At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, bab : Surat Al-Ikhlash, no. (3364)
[2]. Hadits riwayat Ath-Thabrany dalam Tafsirnya (30/346). Dan Al-Baihaqy dalam Asma Wash Shiafat hal. 58-59
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhary dalam kitab Fadhilah Para Sahabat, bab : Budi pekerti kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Fatimah Radhiyallahu ‘anha no. (3714). Dan Muslim dalam kitab Fadhilah Para Sahabat, bab : Fadhilah Putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, no (2449) (93).
[4]. Hadits riwayat Al-Bukhary dalam Kitab Fadhilah Al-Qur’an, bab : Fadhilah “Qul Huwa Allahu Ahad” no. (5015) Dan Muslim dalam kitab Shalat Para Musafir, bab : Fadhilah membaca “Qul Huwa Allahu Ahad”, no. (811) (30)
[5]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Dzikir, bab : Fadhilah Tahlil, no. (2693) (30)
[6] Telah disebutkan takhrijnya.
[7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi, dalam Bab-bab Witir, bab : Bacaan yang dibaca dalam shalat witir, no. (463). Ia berkata : “hadits ini hasan gharib”.

http://almanhaj.or.id/content/1665/slash/0/tafsir-surat-al-ikhlash/

Sabtu, 23 Agustus 2014


Aku niatkan pernikahanku hanya untuk beribadah kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi. Bukan karena hal-hal lainnya

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa hormat, taat serta patuh kepada suami selama tidak bertentangan dengan Agama.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa minta izin kepada suami jika hendak bepergian.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa menghargai dan menerima pemberian suami serta tidak akan banyak menuntut.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa menjaga kehormatan diri ketika suami tak ada di rumah.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa menjaga kehormatan dan harta suami.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa berusaha menyenangkan dan menghibur hati suami disaat suami sedang ada masalah.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa melayani suami dengan baik dalam hal kehidupan sehari-hari dan kebutuhan batin.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa menjadi penyejuk dalam rumah tangga bagi suami dan anak-anakku.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang tak segan-segan menasehati jika suami melakukan hal tak baik.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang lebih betah di rumah dari pada di luaran untuk hal-hal yang tak ada gunanya.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang selalu bisa memperhatikan apa yang disuka dan yang tak disuka suami.

Aku wajib menjadi seorang isteri yang selalu menjauhkan diri dari kumpulan orang-orang yang suka bergunjing [ghibah].

Aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa menjadi pengayom dan penuh kasih sayang dalam merawat serta mendidik anak-anakku.

Dan aku wajib menjadi seorang isteri yang senantiasa lebih mementingkan meningkatkan ibadah dari pada digunakan untuk hal-hal yang tak begitu penting.

dari FP : Mahasiswa Muslim Gajah Mada

Minggu, 20 Juli 2014

kita baru mengerti.. arti kehidupan yang sesungguhnya yaitu ketika kita berada diluar sana..

ketika kita menjadi seorang pendidik di suatu instansi sekolah negeri yang sebagian siswanya beragama non muslim.. 
kadang sorot mata yang sinis dari siswi non muslim melihat jilbab sy, tp sy pikir, baik, beginilah islam, begitu menjaga kehormatan wanita. 
disana kita akan belajar tentang menghormati agama lain.

keimana dan ketaqwaan kita akan diuji di sana, 

memang sudah menjadi suatu pilihan bagi diri saya untuk berhijab dengan jilbab yang "besar" dibandingkan karyawan dan sebagian teman2 ppl sy..

dalam 1 mig. masing2 kami akan di siff utk kegiatan salaman pagi menyambut siswa-siswinya dan sudah menjadi pilihan sy, ketika teman-teman saya menyambut mereka dengan senyuman dan salaman serta sapaan yang hangat untuk siswa laki2 dan perempuan namun sy lebih memilih utk tidak menyalami yang laki2, mungkin dipikir mereka mgkn sy orang yg aneh namun beginilah islam menjaga kehormatan dan kesucian seorang wanita,


sudah kurang lebih 1 bulan ini sy menjalani kegiatan PPL pada salah satu sekolah negri di jogja, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disana, dan masih ada 1,5 bulan lagi..


Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan sesuatu Karena Allah maka niscaya Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah ditinggalkannya. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (yang artinya) : ‘Barangsiapa yang beramal kebaikan walau seberat biji dzarroh pun niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrah pun , niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

bismillah Ya Allah kuatkanlah hamba, berikanlah kelancaran dan keberkahan pada aktifitas hamba, serta segerakan hamba untuk segera lulus kuliah.. semoga berkah semuanya.. aamiin..

Sabtu, 21 Juni 2014




Menikah itu artinya siap menua bersama
Tentu inginnya menua bersama dengan penuh bahagia
Dan salah satu indikator pasangan bahagia adalah ketika bisa saling mendapat ketentraman, ketenangan hati, dan bertambahnya rasa cinta, kasih sayang serta bertambahnya ketaqwaan kepada Allah subhanhu wa ta'ala di saat bersama..

Minggu, 15 Juni 2014

teruntuk siapapun yang hendak menikah, silahkan untuk menjadi bahan renungan dan carilah jawabannya...

Biasanya apa saja sih persiapan sebelum menikah? Beberapa di antaranya mungkin sedang Anda siapkan adalah:
  • a. Memilih gedung tempat resepsi
  • b. Fitting baju pengantin
  • c. Membuat daftar undangan
  • d. Menentukan paket bulan madu
  • e. Dan lain-lain
Tentu saja semua itu adalah hal penting dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Tapi kesibukan mempersiapkan hal-hal tadi justru sering membuat orang lupa merenungkan dan mempersiapkan yang sebenarnya justru jauh lebih penting dan mendasar.

Persiapan itu bukan berupa benda atau materi, tapi lebih ke pertanyaan-pertanyaan yang bersifat fundamental, misalnya:
  • a. Betulkah saya sudah betul-betul siap mental untuk menikah?
  • b. Pernikahan seperti apa yang ingin saya bangun?
  • c. Apa yang ingin saya raih dalam pernikahan itu?
  • d. Konsep keluarga bahagia menurut saya itu seperti apa?
  • e. Apakah saya sebagai suami akan mampu membimbing istri dan anak-anak untuk mengingat Allah, disaat ibadah saya masih bolong-bolong?
  • f. Apakah saya nanti sebagai istri akan bisa menerima dan tidak mengeluh jika nanti keluangan keluarga tidak seperti yang diharapkan?
  • g. Apakah nanti saya takkan tergoda mencari yang lain ketika kulit pasangan mulai mengendur dan berkeriput?

Bagi yang belum punya jawaban yang jelas untuk pertanyaan tadi, ayo segera kita renungkan dan cari jawabannya.

Gimana, sudah menemukan jawabannya? Sekarang, bagaimana kalau pertanyaan-pertanyaan diatas kita tanyakan juga kepada calon pasangan kita?:

  • a. Apakah ia sudah punya jawabannya?
  • b. Kalau belum, apakah Anda siap mendengar jawabannya?
  • c. Kira-kira, apakah jawabannya akan sama, atau minimal mirip dengan jawaban Anda?

Sadarkah Anda, banyak pasangan yang menikah tanpa lebih dahulu memahami dan merenungkan persiapan yang paling mendasar itu?

Dapat dibayangkan, untuk "perjalanan" penting ini, yang bagi sebagian besar orang hanya dilakukan sekali seumur hidup, kita malah hampir-hampir tidak punya persiapan memadai.

Betulkah pernikahan serumit itu sih? Perasaan dulu kakek-nenek kita ngga gitu-gitu amat deh.

Lebih baik pertanyaan itu diajukan di awal, bukan malah mencari jawabannya di dalam perjalanan pernikahan itu sendiri.

Kalau jawabannya bisa didapat dari buku sih masih mending. Apa jadinya kalau jawaban-jawaban dari pertanyaan itu didapat dari kejadian yang menimpa rumah tangga kita?

Sedemikian pentingnya persiapan pra-nikah, seharusnya membuat kita mengisi masa jelang nikah dengan pengetahuan tentang pernikahan.

Buat Anda yang saat ini sudah menikah dan belum merenungkan pertanyaan-pertanyaan tadi, maka proses menggali, mengenali serta memahami diri sendiri dan pasangan tersebut, bisa dilakukan saat ini juga.

Tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan yang lebih baik.

(AKU KAU KUA, http://bukupernikahan.com)