Page

Tampilkan postingan dengan label Akhlak dan Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak dan Nasihat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

JANGAN PERNAH SALAH MENCINTAI !!!


Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh pernah berkata –dengan penuh tawadhu-
أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ *** لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ
Aku mencintai orang-orang saleh meski aku bukan dari mereka
Aku berharap, dengan mencintai mereka aku nanti mendapatkan syafaat
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي *** وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَهْ
Dan aku membenci orang yang maksiat adalah dagangannya
Meski dagangan kami sama…

Anas Bin Malik radhiallahu 'anhu berkata:
فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيٍّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ، فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ مَعَهُمْ بِِحُبِّيْ إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
"Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka" (HR Al-Bukhari no 3688 dan Muslim 4/2032).

Siapa tahu karena kecintaan yang tulus maka kita akan dikumpulkan bersama Abu Bakar di surga…, bahkan dikumpulkan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam…
KARENANYA…cintailah orang-orang sholeh.... Tirulah gaya hidup mereka…patuhilah petuah-petuah mereka…yaitu orang-orang yang jika kita mengingat mereka… maka kita akan mengingat akhirat…

http://www.firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/331-jangan-pernah-salah-mencintai

BANYAKLAH MEMBACA AL-QU'RAN



Tatkala Ad-Dhiyaa' al-Maqdisi akan bersafar untuk menuntut ilmu hadits maka Ibrahim bin Abdil Wahid Al-Maqdisi berwashiat kepadanya seraya berkata :
أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلاَ تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَّسَرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ
"Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan jangan kau tinggalkan Al-Qur'an. Karena akan dipermudah bagimu
apa yang kau cari sesuai dengan kadar bacaannmu"
Ad-Dliyaa' Al-Maqdisi berkata,

فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيْراً، فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيْراً تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيْثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيْرِ، وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَّسَرْ لِي
"Maka akupun melihat hal itu dan sudah sering aku mencobanya. Jika aku banyak membaca Al-Qur'an maka dimudahkan bagiku untuk mendengar dan mencatat banyak hadits. Namun jika aku tidak membaca Al-Qur'an maka tidak dimudahkan bagiku" (Dzail Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab Al-Hanbali 3/205)
Ya Allah jadikanlah kami para pecinta Al-Qur'an yang berisi firman-firmanMu…yang membacanya siang dan tengah malam…
Janganlah jadikan kami orang-orang yang lalai membacanya hanya karena secercah dunia…yang merasa dirinya sibuk…merasa waktunya kurang... tidak sempat untuk membaca Al-Qur'an…akan tetapi selalu saja sempat untuk internetan dan bersenda gurau…

Ust Firanda

Selasa, 04 September 2012

Ketika Mulai “Ngaji”: Terlalu Semangat, Keras dan Kebablasan


Kami sempat melakukanya di awal-awal kami mengenal dakhwah ahlus sunnah wal jama’ah karena kebodohan kami akan ilmu. Kemudian kami ingin membagainya supaya ikhwan-akhwat bisa mengambil pelajaran dan mengingatkan mereka yang telah lama mengenal anugrah dakwah ahlus sunnah khususnya  kami pribadi. Beberapa hal tersebut ada sepuluh berdasar pengalaman kami:
  1. Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar.
  2. Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain.
  3. Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah.
  4. Keras dan kaku dalam berdakwah.
  5. Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar.
  6. Menganggap orang di luar dakwah ahlus sunnah sebagai saingan bahkan musuh.
  7. Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/ tokoh agama tertentu.
  8. Tidak serius belajar bahasa arab.
  9. Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik.
  10. Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang yang shalih serta tenggelam dengan kesibukan dunia.

Minggu, 02 September 2012

Calon Jenazah itu Saya dan Anda

Saya dan Anda adalah ... CALON JENAZAH.
Sekarang kita sedang menunggu gilirannya ...




Kita semua pasti meyakini kalau kematian akan menghampiri. Tetapi gemerlap dunia menyilaukan mata hati, membuat seseorang terlena dan bahkan tersesat. Seluruh angan dan ambisi akan dibatasi satu kata; ajal! Selanjutnya sikap terhadap dunialah yang menentukan status liang kubur, apakah menjadi sepetak taman surga atau justru sepercik api neraka.

Hari ini manusia mengejar keuntungan dunia, seolah tujuan penciptaan mereka untuk bersaing mendapatkan dan mengumpulkannya. Mereka melupakan suatu hari ketika kembali kepada Allah.

Kesadaran penuh akan datangnya kematian, dan sikap yang benar dalam menyambutnya dengan mengisi amal shalih adalah kunci kebahagiaan hidup di akhirat, sebuah negeri yang tak pernah mati. Tetapi kita memang mengherankan. Membangun kehidupan dunia, padahal akan kita tinggalkan; merobohkan bangunan akhirat, padahal di situ kita akan tinggal selamanya.

Segalanya kita kerahkan untuk meraup sekeping kenikmatan dunia yang tak lebih dari sekedar air yang menetes dari jari yang baru saja diangkat dari samudra, bila dibandingkan samudra itu sendiri. Padahal, dunia adalah fata morgana. Di bawah bayang-bayang fatamorgana itulah, kita semua bernaung menanti ditiupnya peluit kematian.

Maka mulai sekarang, tentukan nasib kita setelah kematian; apakah ajal kita menjadi proses membahagiakan bernama khusnul khatimah ataukah memilukan sekaligus mengerikan bernama su'ul khatimah.

Dahulukan Akhirat maka Dunia Akan Mengikuti

 

Terbukti, Allah Ta’ala Tidak Akan Pernah Menyengsarakan Hamba-Nya yang Bertakwa

Tepat setelah Ramadhan ada seorang yang bercerita kepada penulis: “Ramadhan tahun ini saya berpuasa, tidak seperti tahun lalu sibuk kerja akhirnya tidak puasa dan shalat, saya ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya relakan untuk berhenti kerja, karena pekerjaan tersebut membuat saya tidak shalat, tidak puasa, tidak dekat dengan Allah Ta’ala, saya ingin lebih berbakti kepada orangtua, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu membangkang, menganggap remeh perkataan orangtua, Alhamdulillah…Allah memberi petunjuk bisa mengisi Ramadhan dengan lebih beribadah, dan bakti kepada kedua orangtua, lebih mengetahui hakikat kehidupan dunia, meskipun ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati…”akankah saya mendapat pekerjaan?!”, ternyata setelah Ramadhan berlalu, jangankan mencari pekerjaan, bahkan saya ditawari…, bahkan dua pekerjaan sekaligus!! He he he, sampai bingung memilihnya…Alhamdulillah… semoga iman ini bisa istiqamah sampai ajal menjemput.”
Setelah mendengar cerita tersebut, saya teringat beberapa hal, semoga bermanfaat terutama bagi penulis dan juga saudara-saudaraku kaum muslim…

1. Terbuktikan…

Bahwa Allah Ta’ala tidak akan pernah menyengsarakan hamba-Nya yang taat kepada-Nya, jauh dari maksiat-Nya

{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ } [المائدة: 6]

Artinya: ”Allah tidak hendak menyulitkan kamu”. QS. Al Maidah

{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ } [الحج: 78]

Artinya: “dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” QS. Al Hajj: 78.

2. Terbuktikan…
Bahwa Allah tidak akan pernah menyengsarakan hamba-Nya di dalam syari’at-syari’at-Nya.

{ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} [البقرة: 185]

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” QS. Al Baqarah: 185.

3. Terbuktikan…
Kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa orang yang cita hidupnya adalah akhirat, maka niscaya dunia akan datang kepadanya dalam keadaan ia menolaknya…
Demi Allah! Itu semua terbukti sobat… bahkan dunia terasa didorong-dorong untuk mendekat kepada kita, dunia itu seakan dipaksa untuk mendekat kepada kita…walhamdulillah…

عَنْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ ».

Artinya: “Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dunia adalah cita-citanya, niscaya Allah akan cerai beraikan usahanya, menjadikan kefakirannya di depan matanya dan tidaklah dunia sampai kepadanya kecuali yang telah dituliskan untuknya dan barangsiapa yang niatnya adalah akhirat, niscaya Allah akan menguatkan baginya usahanya dan menjadikan kekayaannya pada hatinya serta dunia mendatanginya dalam keadaan dipaksa.” HR. Ibnu Majah.



Tujuan dari tulisan ini adalah kembali mengingatkan kepada diri penulis dan saudarnya dari kaum muslim, bahwa:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} [الطلاق: 2، 3]

Artinya: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar."

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. Ath Thalaq: 2-3. Semoga bermanfaat. wallahu a'lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Ahad, 8 Syawwal 1433H, Dammam KSA.
Dakwah Sunnah

Rabu, 29 Agustus 2012

Jagalah Alloh, Alloh akan Menjagamu




الحديث التاسع عشر: عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنهما
قال: كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوماً، فقال لي: “يا غلام، إنّي أعلمك كلماتٍ: احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل اللهَ، وإذا استعنت فاستعن بالله، واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعوا على أن يضرّوك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف”، رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح. وفي رواية غير الترمذي: “احفظ الله تجده أمامك، تعرّف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة، واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبَك، وما أصابك لم يكن ليخطئَك،
واعلم أن النصر مع الصبر، وأن الفَرَج مع الكرب، وأنّ مع العسر يسراً”.

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dia
berkata: “Suatu hari (ketika) saya (dibonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di belakang (hewan tunggangan) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda kepadaku: “Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa seluruh makhluk (di dunia ini), seandainya pun mereka bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) bagimu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (kebaikan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) bagimu, dan seandainya pun mereka bersatu untuk mencelakakanmu, maka mereka tidak mampu melakukannya, kecuali dengan suatu (keburukan) yang telah Allah tuliskan (takdirkan) akan menimpamu, pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering.”
HR At Tirmidzi (7/228-229 -Tuhfatul Ahwadzi), hadits no. 2516), disahihkan oleh Syaikh Al Albani), dan dia berkata: (hadits ini adalah) hadits hasan sahih

Jumat, 10 Agustus 2012

sekilah renungan.2

”Kami pernah melakukan suatu perjalanan bersama Ibnul-Mubarak. Maka, seringkali terlintas dalam pikiranku (tentang kemasyhuran Ibnul-Mubarak) hingga aku berkata pada diriku sendiri : ’Apakah gerangan yang membuatnya laki-laki ini mempunyai keutamaan yang lebih dibandingkan kami sehingga ia begitu masyhur/terkenal di kalangan manusia ?. Apabila ia shalat, kami pun juga melakukan shalat. Jika ia ber puasa, kami pun berpuasa. Jika ia berjihad, kami pun berjihad. Dan jika ia melakukan haji, kami pun juga melakukannya”.
Al-Qaasim pun melanjutkan : ”Maka satu ketika saat kami berada dalam sebagian perjalanan kami menuju Syam di waktu malam, kami sedang makan malam di sebuah rumah. Ketika itu lampu padam. Maka sebagian di antara kami berdiri untuk mengambil lampu [keluar untuk beberapa saat untuk menyalakan lampu, kemudian datang membawa lampu yang telah menyala]. (Setelah keadaan menjadi terang), maka aku melihat wajah dan jenggot Ibnul-Mubarak telah basah karena air mata. Maka akupun berkata pada diriku sendiri : ”Rasa takut inilah yang membuatnya mempunyai keutamaan lebih dibandingkan kami. Mungkin ketika lampu tadi padam, ia teringat akan kedahsyatan hari kiamat”

Kamis, 09 Agustus 2012

Sekilas renungan.1

# Mutiara Salaf #

Seorang mukmin itu menyedikitkan omongan dan memperbanyak amalan. Adapun orang munafik, dia memperbanyak omongan dan menyedikitkan amalan.

Selama aku belum berbicara dengan satu kalimat, maka aku manguasainya. Namun jika
aku telah mengucapkannya, maka kalimat itu menguasaiku.

Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan, anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi.

[Hashaaidul Alsun, halaman. 175-176

Selasa, 07 Agustus 2012

3 Tingkatan Ilmu


`Abdullah bin al- Mubarak mengatakan bahawa:

“Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.
2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.
3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”

Senin, 06 Agustus 2012

Ingat Ramadhan Hanya Sebulan (29 atau 30 hari) saja, Maka Gunakan Sebaik-baiknya!

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Tidak terasa 15 hari sudah kita berpuasa dan berada di dalam Ramadhan 1433H ini, penting rasanya untuk mengingatkan kepada diri kita tentang waktu,

Agar kita tidak pernah meremehkan dan menyia-nyiakan kesempatan di dalamnya…

Agar kita tidak pernah lengah lagi, karena matahari terbit tenggelam, terbit tenggelam, terbit tenggelam tanpa ada kompromi untuk berhenti.

Sehingga akhirnya, kita benar-benar mendapatkan dari Allah Ta’ala berkahnya Ramadhan 1433H ini dan kalau bisa seratus persen! Dengan izin Allah Ta’ala.

Dan sehingga kita tidak termasuk dalam hadits ini, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ؟ قَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ .

Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke atas mimbar, lalu beliau bersabda: “Amin, amin, amin”, lalu ada yang bertanya: “wahai Rasulullah, sesungguhnya ketika engkau naik ke atas mimbar engkau mengucapkan: “Amin, amin, amin (apa sebabnya)?”, beliau bersabda: “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku, lalu dia berkata: “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan dan tidak diampuni dosanya maka akhirnya ia masuk ke dalam neraka dan dijauhkan oleh Allah (dari surga), katakanlah amin (wahai Muhammad)”, maka akupun mengatakan “amin”. HR. Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 75.

Seputar Sifat dan Karakteristik Waktu!

Waktu adalah modal hidup manusia di dunia, dengan modal ini dia bisa berdagang dengan cara beribadah kepada Allah Ta’ala yang mendatangkan keuntungan pahala. Kalau tidak pandai menggunakan modal, maka modalnya akan habis dan yang ada kerugian.

{وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ}

Artinya: “Dan berikanlah peringatan kepada manusia tentang hari yang pada waktu itu datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim: "Wahai Rabb kami, beri waktu tangguhlah kepada kami, walaupun dalam waktu yang sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” QS. Ibrahim: 44.

Orang kafir merasa rugi ketika dicabut nyawanya dan di akhirat karena tidak menggunakan waktu dan hidupnya sebaik-baiknya.

{ حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100) }

Artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Wahai Rabbku kembalikanlah aku ke dunia”. “Agar aku beramal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan (ketika di dunia). Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. QS. Al Mukminun: 99-100.

Oleh sebab ini generasi terbauk sepanjang sejarang manusia, yaitu para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat membenci sikap SABAHLAL (tidak mempunyai tujuan, tidak mempunyai planning, tidak menentu), coba perhatikan beberapa pernyataan mereka:

عن عمر أنه قال: إني لأكره لأحدكم أن يكون خاليا سبهللا، لا في عمل دنيا ولا دين

Artinya: “Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh sangat membenci kepada salah seorang dari kalian, jika ia bersikap sabalal (sikap tidak menentu dan tidak menghasilkan apa) tidak dalam perkara dunia dan tidak juga dalam perkara agama.” Lihat kitab Adhwa Al Bayan, pada tafsir surat Asy Syarh.

يقول ابن مسعود - رضي الله عنه -: "ما ندِمتُ على شيء ندَمِي على يومٍ غرَبَت شمسُهُ نقَصَ فيه عُمري ولم يَزِد فيه عمَلِي".

Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku tidak pernah benar-benar menyesal terhadap sebuah hari, yang di dalamnya mataharinya terbenam, umurku berkurang sedangkan tidak bertambah amalku di dalamnya.” Lihat kitab Qimat Al Waqt.

Waktu sangat cepat berlalu dan sebab inilah kebanyakan manusia tertipu dengan waktu.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “2 nikmat kebanyakan manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. HR. Bukhari.

Waktu jika sudah berlalu, tidak akan pernah kembali, makanya para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang setelah mereka sangat perhatian terhadap waktunya dan tidak pernah menyia-nyiakannya.

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لاَ يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَإِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِاللَّيْلِ لاَ يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki hak pada siang hari yang tidak akan diterima-Nya pada malam harinya, dan Allah memiliki hak pada malam hari yang tidak akan diterima-Nya pada siang hari”. Lihat kitab Dzikr Al Maqam Al Mahmud, karya Ahmad bin Muhammad Al Khallal dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.

Umar bin Abduk Aziz rahimahullah pernah ditanya: “(Kenapa tidak engkau) coba pergi (bertamasya) kemudian istirahatkan dirimu?”, beliau menjawab: “Lalu siapa yang menggantikan diriku tugas pada hari itu?”, dikatakan kepada beliau: “Engkau akhirkan tugas itu besok hari”, beliau menjawab: “Tugas satu hari saja sudah menyibukkanku, bagaimana jika terkumpul padaku tugas dua hari?!”

Al Hasan Al Bashry rahimahullah berkata:

لقد أدركت أقواما كانوا أشد حرصا على أوقاتهم من حرصكم على دراهمكم ودنانيركم!

Artinya: “Sungguh aku telah menemui orang-orang yang mana mereka sangat gigih terhadap waktu mereka dibandingkan gigihnya kalian dalam mencari emas dan perak.”

Inilah yang menyebabkan Muhammad bin Salam (w: 225H) membeli satu pena dengan harga 1 Dinar, padahal 1 Dinar bisa membeli dengannya 150 buah pena, bagaimana kejadiannya…

و كان محمد بن سلام جالسا في مجلس الإملاء والشيخ يحدث، فانكسر قلم محمد بن سلام، فقال: قلم بدينار، فتطايرت إليه الأقلام. وكان الدينار يشتري قرابة مائة وخمسون قلم، ولكن محمد بن سلام اشترى به تلك اللحظات التي إذا فاتت فإنها لا تعود.

Artinya: “Muhammad bin Salam pernah duduk di majelis periwayatan hadits, ketika itu syeikh sedang meriwayatkan hadits, lalu pena Muhammad bin Salam patah, lalu beliau bertanya: “Siapa yang mau menjual 1 pena dengan 1 Dinar”, pada saat itu berterbangan pena-pena ke arahnya (berasal dari orang-orang), dan saat itu 1 Dinar bisa membeli sekitar 150 pena, akan tetapi Muhammad bi Salam membelinya untuk mendapatkan kesempatan tersebut yang jika sesudah berlalu maka tidak akan kembali lagi." Lihat kitab Siyar A’lam An Nubala’.

Seseorang tidak akan pernah mengetahui kapan lagi mendapatkan waktu yang lapang untuknya, oleh sebab inilah para ulama mengingatkan agar jangan menunda-nunda amalan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

التسويف رؤوس أموال المفاليس.

Artinya: “Sikap menunda-nunda adalah modalnya seorang yang bangkrut”.

لو كان الوقت يشترى لاشتريت من هؤلاء أوقاتهم!

Artinya: “Jikalau waktu dapat dibeli dari mereka niscaya aku akan benar-benar dari mereka waktu mereka.”

Seorang Muslim tidak boleh punya waktu luang percuma…

Allah Ta’ala berfirman:

{ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ }

Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. QS. Asy Syarh: 7

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

أي: إذا فَرغت من أمور الدنيا وأشغالها وقطعت علائقها، فانصب في العبادة، وقم إليها نشيطا فارغ البال، وأخلص لربك النية والرغبة.

Artinya: “Jika kamu telah selesai dari urusan dan kesibukan dunia, dan kamu putuskan keterkaitan dengannya, maka berbuatlah untuk beribadah, dan bangunlah kepadanya dengan semangat dalam keadaan pikiran yang jernih, ikhlaskanlah niat dan keinginan untuk Rabbmu”.

Mujahid rahimahullah berkata:

إذا فرغت من أمر الدنيا فقمت إلى الصلاة، فانصب لربك،

Artinya: “Jika kamu telah selesai dari urusan dunia maka bangunlah untuk mengerjakan shalat, beribadahlah untuk Rabbmu”.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إذا فرغت من الفرائض فانصب في قيام الليل.

Artinya: “Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat wajib maka bangunlah untuk shalat malam”. Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir.

Luangkan Waktu beribadah kepada Allah, maka pasti Anda kaya…!

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ صَدْرَكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ »

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman: “Wahai Anak Adam, luangkan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, maka langsung aku isi hatimu dengan keakayaan dan langsung Aku tutupi kefakiran-Mu dan jika tidak demikian, maka aku telah isi hatimu dengan kesibukan dan tidak Aku tutupi kefakiranmu”. HR. Ahmad.

Yang tidak mengisi waktunya dengan sebaik-baiknya berarti tanda Allah Ta’ala berpaling dari hamba tersebut.

Berkata Saif Al Yamani rahimahullah:

" إِنَّ مِنْ عَلَامَةِ إِعْرَاضِ اللَّهِ عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَشْغَلَهُ بِمَا لَا يَنْفَعُهُ "

Artinya: “Sesungguhnya termasuk tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah hamba tersebut disibukkan-Nya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya”. Lihat kitab Thabaqat Al Muhaditstsin, karya Abu Syeikh Al Ash Fahan.
Cara Terbaik Menjaga Waktu…

Al Hasan bin Ali Al Abid berkata:

قَالَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ لِرَجُلٍ : كَمْ أَتَتْ عَلَيْكَ , قَالَ : سِتُّونَ سَنَةً , قَالَ : فَأَنْتَ مُنْذُ سِتِّينَ سَنَةً تَسِيرُ إِلَى رَبِّكَ تُوشِكُ أَنْ تَبْلُغَ , فَقَالَ الرَّجُلُ : يَا أَبَا عَلِيٍّ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ , قَالَ لَهُ الْفُضَيْلُ : تَعْلَمُ مَا تَقُولُ , قَالَ الرَّجُلُ : قُلْتُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ . قَالَ الْفُضَيْلُ تَعْلَمُ مَا تَفْسِيرُهُ ؟ قَالَ الرَّجُلُ : فَسِّرْهُ لَنَا يَا أَبَا عَلِيٍّ , قَالَ : قَوْلُكَ إِنَّا لِلَّهُ ، تَقُولُ : أَنَا لِلَّهِ عَبْدٌ ، وَأَنَا إِلَى اللَّهِ رَاجِعٌ , فَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ رَاجِعٌ , فَلْيَعْلَمْ بِأَنَّهُ مَوْقُوفٌ , وَمَنْ عَلِمَ بِأَنَّهُ مَوْقُوفٌ فَلْيَعْلَمْ بِأَنَّهُ مَسْئُولٌ وَمَنْ عَلِمَ أَنَّهُ مَسْئُولٌ فَلْيُعِدَّ للسُّؤَالَ جَوَابًا , فَقَالَ الرَّجُلُ : فَمَا الْحِيلَةُ قَالَ : يَسِيرَةٌ , قَالَ : مَا هِيَ قَالَ : تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ " .(الحلية )

Artinya: “Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang: “Berpa umurmu?”, orang ini menjawab: “60 tahun”, beliau berkata: “Sungguh engaku mulai dari 60 tahuan berjalan menuju Rabbmu hampai kamu sampai”, lalu orang itu berkata: “Wahai Abu Ali (Fudhail bin Iyadh), Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un”, fudhail bertanya kepadanya: “Pahamkah apa yang kau katakan?”, orang ini menjawab: “Aku Telah mengatakan: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi raji’un”, Fudhail bertanya lagi: “Apakah kamu mengetahui tafsirannya?”, orang ini menjawab: “Kalau begitu tafsir itu untuk kami, wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata: “Perkataanmu “Inna Lillahi wa”, kamu mengatakan: “Aku adalah hamba milik Allah dan kepada-Nya aku dikembalikan, maka barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Allah dan dia akan kembali kepada-Nya, maka hendaklah dia ketahui bahwa dia akan diberdirikan dan barang siapa yang mengetahui dia akan diberdirikan maka hendaklah dia mengetahui bahwa dia akan ditanya, maka hendaklah dia persiapkan jawaban untuk pertanyaan itu”, lalu orang ini bertanya: “Lalu bagaimana jalan keluarnya?”, kata Fudhail: “gampang”, orang ini bertanya: “Apa itu?”, Fudhail menjawab: “Berbuat baiklah disisa umurmu maka hal itu akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang masih tersisa, karena sesungguhnya jika engkau rusak (berbuat buruk) sisa umurmu maka ditulis dosa bagimu atas umur yang sudah lewat dan yang akan datang”. Lihat kitab Hilyat Al Awliya’.

Semoga bermanfaat untuk sisa waktu bulan Ramadhan 1433H ini. Wallahu a’lam.

Ditulis ulang dan direvisi oleh: Ahmad Zainuddin, Jumat, 15 Ramadhan 1433H, Dammam KSA

http://dakwahsunnah.com/artikel/fiqhsunnah/179-ingat-ramadhan-hanya-sebulan-29-atau-30-hari-saja,-maka-gunakan-sebaik-baiknya

Sabtu, 04 Agustus 2012

Nasihat Dari Hati ke Hati tentang Hati

Ibnul Qayyim -rahimahullah- adalah salah seorang ulama besar yang telah banyak berbicara tentang hati. Berikut ini adalah beberapa untaian kalimat Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- tentang hati, yang tertuang dalam salah satu bukunya al-Fawaid. Semoga kalimat-kalimat ini bisa memberikan manfaat besar kepada kita semua.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:
  • Tidaklah seseorang dihukum dengan hukuman yang lebih berat dibandingkan dengan kerasnya hati dan jauhnya dari Allah.
  • Neraka telah diciptakan untuk mencairkan hati-hati yang keras.
  • Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.
  • Jika hati mengeras, keringlah air mata.
  • Kerasnya hati disebabkan oleh empat hal jika engkau melampaui batas yang dibutuhkan (yaitu); makan, tidur, berbicara dan pergaulan. Sebagaimana badan jika sakit tidak akan bermanfaat padanya makanan dan minuman, maka demikian pula hati jika sakit karena syahwat tidak akan manjur padanya berbagai nasihat.
  • Barangsiapa menghendaki kejernihan hatinya, hendaknya dia melebih utamakan Allah atas syahwatnya.
  • Hati-hati yang terikat dengan syahwat, berarti tertutup dari Allah sesuai dengan keterikatannya dengan syahwat.
  • Kehancuran hati disebabkan karena merasa aman (dari siksaan Allah -pent) dan kelalaian. Sedangkan kemakmuran hati disebabkan oleh rasa takut dan selalu ingat.
  • Kerinduan kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya adalah angin segar yang bertiup kepada hati yang akan mendinginkan darinya panasnya dunia.
  • Barangsiapa menempatkan hatinya disi Rabbnya niscaya akan tenang dan tenteram. Barangsiapa membebaskan hatinya pada manusia, niscaya dia akan kebingungan dan akan semakin tegang (stress).
  • Kecintaan kepada Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang padanya terdapat kecintaan terhadap dunia kecuali sebagaimana onta masuk ke dalam lubang jarum.
  • Jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memilihnya untuk Diri-Nya, memilihnya untuk mencintai-Nya, memilihnya untuk beribadah kepada-Nya, sehingga Dia akan menyibukkan pikirannya dengan-Nya, menyibukkan lisannya untuk berdzikir kepada-Nya, dan menyibukkan anggota tubuhnya untuk mengabdi kepada-Nya.
  • Hati bisa sakit sebagaimana badan bisa sakit. Dan obat hati ada pada taubat dan perlindungan diri. Hati juga bisa kotor sebagaimana cermin bisa kotor. Dan mengkilapnya hati adalah dengan dzikir. Hati bisa telanjang sebagaimana tubuh juga bisa telanjang. Dan perhiasan hati adalah ketakwaan. Hati juga bisa lapar dan haus sebagaimana halnya badan. Dan makanan dan minuman hati adalah ma’rifah (pengetahuan tentang Allah), mahabbah (kecintaan terhadap Allah), tawakal, senantiasa kembali dan mengabdi hanya kepada Allah

http://albamalanjy.wordpress.com/2012/02/08/nasihat-dari-hati-ke-hati-tentang-hati/

Selasa, 03 Juli 2012

Di Balik Merdunya Nyanyian dan Indahnya Lukisan



Penulis: Ummu Asma’

Siapa yang suka menyanyi atau menggambar? Atau siapa yang suka mendengarkan musik? Mungkin ada banyak orang akan menjawab “Saya!” Ketiga kegiatan tersebut menurut sebagian besar orang bagaikan garam dalam masakan. Banyak orang mengatakan dengan mendengarkan musik atau menggambar akan menjadikan hati yang sedih menjadi terhibur. Namun maukah kalian, wahai saudariku, melihat apa yang Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perbuat terhadapnya? Jika memang kita mengaku sebagai hamba Allah serta pengikut Rasulullah yang setia, hendaknya kita memperhatikan masalah ini dengan sungguh-sungguh.


Dibalik Merdunya Nyanyian dan Musik

Mungkin ada di antara kita yang pernah mendengar bahwa Islam melarang adanya musik dan gambar. Padahal telah kita ketahui bahwa sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya pasti memiliki banyak keburukan bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan (suara) yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.” (QS. Luqman: 6)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata tentang ayat ini, “Al-Lahwu (suara) di sini adalah lagu (ghina‘).” Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Sa’id bin Zubair, Qatadah dan Ibrahim rahimakumullah yang menyatakan bahwa yang dimaksud al-lahwu adalah lagu. Hasan Al-Basri berkata bahwa ayat tersebut turun untuk menjelaskan tentang nyanyian dan seruling.

Senin, 02 Juli 2012

Faedah Menikah Muda

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Menikah di usia muda, siapa takut?

Berikut penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Sholih bin Fauzan bin 'Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah- yang kami kutip dari Web Sahab.net (arabic).


[Faedah pertama: Hati semakin tenang dan sejuk dengan adanya istri dan anak]

Di antara faedah segera menikah adalah lebih mudah menghasilkan anak yang dapat menyejukkan jiwa. Allah Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

Aku Ingin Segera Menikah

Assalamu’alaikum Warahmatullah

Ana ingin minta nasihat dari Ustadz. Terus terang sekarang ini, ana punya keinginan yang sangat besar untuk menikah, tapi masalahnya ana masih kuliah dan yang selalu menjadi pertanyaan besar bagi ana apa yang akan ana berikan kepada istri ana nantinya sementara ana ini belum punya pekerjaan. Ana juga tidak bisa untuk puasa terus-menerus untuk menjaga diri ini dari fitnah yang ditimbulkan oleh kesendirian ini. Apa yang harus ana lakukan ustadz agar ana bisa menghandari fitnah ini?
Jazakallahu khairan..

Jawaban:

Wa’alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh

Jazakallahu khairan atas kepercayaan antum menyampaikan pertanyaan ini pada ana…

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melimpahkan taufik-Nya pada antum untuk tetap istiqamah dalam menghadapi berbagai macam fitnah yang nampak, maupun tidak nampak…

Kalau antum sudah punya keinginan besar untuk nikah dalam artian antum merasakan kalau tidak menikah dengan segera, maka antum khawatir akan terjerumus dalam perbuatan terlarang, na’udzu billahi min dzalik, kondisi ini menunjukkan antum wajib segera menikah…

Sabtu, 30 Juni 2012

Bagaimanakah Cara Bertaubat

Pertanyaan:

Assalamu’laikum Warahmatullah Wabarakatuh

Apa syarat diterimanya taubat? Bagaimana caranya kita benar-benar menyesali dosa yang pernah diperbuat agar bisa bertobat dengan sungguh-sungguh?
Jazaakumullah khairan

Abu annas
Alamat: jakarta
Email: annaz_kuc***@yahoo.com

Ustadz Kholid Menjawab :
Agar bertaubat dapat sungguh-sungguh dan diterima Allah maka dibutuhkan syarat. Para ulama menjelaskan syarat- syarat taubat yaitu:
1. Islam, tidak sah taubat dari dosa dan kemaksiatan kecuali dari seorang muslim, sebab taubatnya orang kafir adalah masuk islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Qs. An Nisaa:18)

Selasa, 12 Juni 2012

Mendambakan Wanita Sholehah

 
Apa yang sering diangankan oleh kebanyakan laki-laki tentang wanita yang bakal menjadi pendamping hidupnya?. Cantik, kaya, punya kedudukan, karir bagus, dan baik pada suami. Inilah keinginan yang banyak muncul. Sebuah keinginan yang lebih tepat disebut angan-angan, karena jarang ada wanita yang memiliki sifat demikian.
Kebanyakan laki-laki lebih memperhatikan penampilan dzahir, sementara unsur akhlak dari wanita tersebut kurang diperhatikan. Padahal akhlak dari pasangan hidupnya itulah yang akan banyak berpengaruh terhadap kebahagiaan rumah tangganya.
Seorang muslim yang shalih, ketika membangun mahligai rumah tangga maka yang menjadi dambaan dan cita-citanya adalah agar kehidupan rumah tangganya kelak berjalan dengan baik, dipenuhi mawaddah wa rahmah, sarat dengan kebahagiaan, adanya saling ta‘awun (tolong menolong), saling memahami dan saling mengerti. Dia juga mendamba memiliki istri yang pandai memposisikan diri untuk menjadi naungan ketenangan bagi suami dan tempat beristirahat dari ruwetnya kehidupan di luar. Ia berharap dari rumah tangga itu kelak akan lahir anak turunannya yang shalih yang menjadi qurratu a‘yun (penyejuk mata) baginya.
Demikian harapan demi harapan dirajutnya sambil meminta kepada Ar-Rabbul A‘la (Allah Yang Maha Tinggi) agar dimudahkan segala urusannya.
Namun tentunya apa yang menjadi dambaan seorang muslim ini tidak akan terwujud dengan baik terkecuali bila wanita yang dipilihnya untuk menemani hidupnya adalah wanita shalihah. Karena hanya wanita shalihah yang dapat menjadi teman hidup yang sebenarnya dalam suka maupun lara, yang akan membantu dan mendorong suaminya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya dalam diri wanita shalihah tertanam aqidah tauhid, akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. Dia akan berupaya ta‘awun dengan suaminya untuk menjadikan rumah tangganya bangunan yang kuat lagi kokoh guna menyiapkan generasi Islam yang diridhai Ar-Rahman.
Sebaliknya, bila yang dipilih sebagai pendamping hidup adalah wanita yang tidak terdidik dalam agama1 dan tidak berpegang dengan agama, maka dia akan menjadi duri dalam daging dan musuh dalam selimut bagi sang suami. Akibatnya rumah tangga selalu sarat dengan keruwetan, keributan, dan perselisihan. Istri seperti inilah yang sering dikeluhkan oleh para suami, sampai-sampai ada di antara mereka yang berkata: “Aku telah berbuat baik kepadanya dan memenuhi semua haknya namun ia selalu menyakitiku.”
Duhai kiranya wanita itu tahu betapa besar hak suaminya, duhai kiranya dia tahu akibat yang akan diperoleh dengan menyakiti dan melukai hati suaminya….! Namun dari mana pengetahuan dan kesadaran itu akan didapatkan bila dia jauh dari pengajaran dan bimbingan agamanya yang haq? Wallahu Al-Musta‘an.

Sabtu, 02 Juni 2012

Carilah Hatimu






Nasehat Ibnul Qayyim al-Jauziyyah:

CARILAH HATIMU DI TIGA TEMPAT :

اُطْلُبْ قَلْبَكَ فِيْ ثَلاَثِ مَوَاطِنَ:

عِنْدَ سَمَاعِ اْلقُرْآنِ، وَفِيْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ، وَفِيْ أَوْقَاتِ اْلخُلْوَةِ

فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِيْ هَذِهِ اْلمَوَاطِنَ

فَسَلِ اللهَ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ، فَإِنَّهُ لاَ قَلْبَ لَكَ

1. Pada saat mendengarkan Al-Qur’an
2. Di majelis dzikir (ba’da shalat, menuntut ilmu syar’i dan lain-lain)
3. Ketika sedang menyendiri

Jika kamu tidak mendapatkannya di tiga tempat itu, maka memohonlah kepada Allah agar memberimu hati, karena sesungguhnya kamu tidak mempunyai hati.

*Shalatlah Sebelum Dishalatkan*


Tidak peduli dimanakan kita berada,jangan pernah meninggalkan shalat...

----------

Penjelasan Tentang Wajibnya Shalat Dalam Berbagai Keadaan

Shalat Adalah Ibadah Para Nabi

Sesungguhnya ibadah shalat bukanlah dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, bahkan juga disyari’atkan kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Mereka pun memerintahkan kepada umat-umat mereka untuk mengerjakan shalat. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

“Isma’il adalah seorang nabi dan rasul, dan ia menyuruh ahlinya (yakni umatnya) untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat.” (Maryam: 54-55)

“Dan Aku telah memilih kamu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu! Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingatku.” (Thaaha: 13-14)

Namun kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan shalat mereka itu berbeda-beda sesuai dengan syariat masing-masing dari para nabi dan rasul.

Kedudukan Shalat Dalam Islam

Shalat dalam agama Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, hal ini bisa disimpulkan bila kita mencermati nash-nash Al Qur’an maupun As Sunnah. Di antaranya sebagai berikut:

1. Mendirikan shalat adalah tanda sebenar-benarnya orang mu’min. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama “Allah” gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan kepada Rabb-Nya mereka bertawakkal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (Al Anfal: 2-3)

2. Shalat merupakan Rukun Islam yang ke dua.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله،

وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima (rukun): Syahadat Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan dan berhaji ke Baitullah (Makkah).”
(Muttafaqun ‘Alaihi)

3. Shalat merupakan tiang agama.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذَرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

“Kepala dari seluruh perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”
(HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138)

4. Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dan sebagai tolok ukur dari seluruh amal ibadah yang lainnya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.”
(HR. Thabrani, Ash Shahihah 3/346 karya Asy Syaikh Al Albani)

5. Turunnya perintah shalat tanpa melalui perantara Malaikat Jibril, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri menerima langsung dari Allah subhanahu wata'ala di atas langit yang ke tujuh.

Shalat Perintah Agung Dari Allah subhanahu wata'ala

Allah subhanahu wata'ala menyebutkan secara tegas di dalam Al Qur’an tentang kewajiban shalat. Diantaranya firman Allah subhanahu wata'ala :

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al Baqarah: 43)

“Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)


*Ramadhan Sebentar Lagi*

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Melalui ayat ini, Allah ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman. Allah memerintahkan mereka untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari menikmati makanan, minuman, dan hubungan badan, dengan niat yang ikhlas untuk Allah ‘azza wa jalla. Sebab, di dalam ibadah puasa itu terkandung penyucian jiwa, pembersihan dan penjernihannya dari segala kotoran dosa dan akhlak yang rendah. Allah menyebutkan bahwa Allah mewajibkan puasa kepada mereka sebagaimana Allah juga mewajibkannya kepada orang-orang sebelum mereka. Sehingga mereka memiliki teladan dalam hal itu. Oleh sebab itu hendaknya mereka bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban ini lebih sempurna daripada yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/277] cet. Maktabah at-Taufiqiyah)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Di dalam ayat “Sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian.” terkandung beberapa faidah. Pertama: pentingnya puasa, dimana Allah ‘azza wa jalla juga mewajibkannya kepada umat-umat sebelum kita. Hal ini menunjukkan kecintaan Allah ‘azza wa jalla terhadapnya, dan bahwasanya ibadah ini wajib bagi setiap umat. Kedua: meringankan beban umat ini, dimana mereka tidak sendirian dalam pembebanan ibadah puasa ini yang terkadang bisa menimbulkan kesulitan bagi jiwa (perasaan) dan badan. Ketiga: isyarat yang menunjukkan bahwasanya Allah ta’ala telah menyempurnakan agama bagi umat ini tatkala Allah sempurnakan untuk mereka berbagai keutamaan yang pernah ada pada umat-umat sebelum mereka.” (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 52)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya puasa merupakan salah satu sebab paling utama untuk meraih ketakwaan. Karena di dalamnya terkandung penunaian perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu, kandungan takwa yang terdapat di dalam ibadah ini adalah: seorang yang berpuasa meninggalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah kepadanya yaitu makan, minum, jima’, dan lain sebagainya yang hawa nafsunya cenderung kepadanya. Dia melakukan hal itu demi mendekatkan diri kepada Allah. Dia mengharapkan pahala dari-Nya tatkala meninggalkan itu semua. Maka ini adalah termasuk bentuk ketakwaan.

Selain itu, kandungan takwa yang terdapat di dalam ibadah ini adalah: seorang yang berpuasa menggembleng dirinya untuk merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala, sehingga dia akan meninggalkan apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya walaupun sebenarnya dia mampu untuk melakukannya karena dia mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukannya. Selain itu, dengan puasa akan menyempitkan jalan-jalan setan, karena sesungguhnya setan itu mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana peredaran darah. Dengan puasa niscaya akan melemah kekuatannya dan mempersedikit kemaksiatan yang mungkin terjadi. Selain itu, orang yang berpuasa biasanya lebih banyak berbuat ketaatan, sedangkan ketaatan merupakan bagian dari ketakwaan. Selain itu, orang yang kaya apabila merasakan susahnya rasa lapar niscaya hal itu akan membuatnya peduli dan memiliki empati dengan orang-orang miskin papa, dan ini pun termasuk bagian dari ketakwaan.”
(lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 86)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

“Puasa Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah (penghambaan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan meninggalkan makan, minum, dan jima’ (hubungan suami-istri) sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Inilah hakikat puasa, yaitu seseorang beribadah kepada Allah dengan meninggalkan perkara-perkara ini, bukan meninggalkannya hanya sebagai sebuah kebiasaan atau karena ingin menjaga kesehatan badan. Akan tetapi dia beribadah dengannya kepada Allah. Dia menahan dari menikmati makanan, minuman, dan berhubungan, demikian pula seluruh pembatal lainnya, dari sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, dari sejak terlihatnya hilal Ramadhan hingga tampak hilal Syawwal.” (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [3/380] cet. Dar al-Bashirah)

Imam Abu Ishaq asy-Syairazi rahimahullah berkata,

“Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam dan salah satu kewajiban agama yang harus ditunaikan. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara; syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, mendirikan sholat, membayarkan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).” (lihat al-Muhadzdzab fi Fiqhi al-Imam asy-Syafi’i [1/324])

Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu’anhu, beliau menuturkan:

Ada seorang arab badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rambut yang acak-acakan. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Kabarkan kepadaku sholat apa yang diwajibkan kepadaku?”. Beliau menjawab, “Sholat lima waktu, kecuali kalau kamu mau menambah sholat sunnah.” Lalu dia berkata, “Kabarkan kepadaku puasa apa yang diwajibkan kepadaku?”. Beliau menjawab, “Puasa di bulan Ramadhan, kecuali kamu mau menambah puasa sunnah.” (HR. Bukhari dalam Kitab ash-Shaum [1891] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [11])

Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah berkata,

“Hadits-hadits yang menunjukkan kewajiban puasa cukup banyak. Kaum muslimin pun telah sepakat bahwa barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka dia kafir.” (lihat Taudhih al-Ahkam [3/439])

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Tatkala mengekang hawa nafsu dari hal-hal yang disenangi dan diinginkan termasuk perkara yang paling berat dan sulit, maka kewajibannya pun diakhirkan hingga pertengahan masa Islam yaitu setelah hijrah; yaitu pada saat hawa nafsu mereka telah terdidik dengan tauhid dan sholat serta terbiasa dengan perintah-perintah al-Qur’an. Maka sesudah itu baru beralih kepada diwajibkannya puasa secara bertahap. Puasa baru diwajibkan pada tahun kedua setelah hijrah. Tatkala wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjalani sembilan kali puasa Ramadhan.

Pada awalnya, puasa diwajibkan dengan disertai pilihan; antara berpuasa atau memberikan makan kepada satu orang miskin sebagai ganti satu hari tidak puasa. Kemudian berpindah dari keadaan boleh memilih ini kepada diwajibkannya puasa. Pada saat itulah ditetapkan bahwa memberikan makan berlaku untuk kakek-nenek yang sudah tua renta apabila mereka tidak kuat berpuasa. Mereka boleh tidak puasa, dan sebagai gantinya mereka harus memberikan makan kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian pula, Allah berikan keringanan bagi orang yang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa dan meng-qodho’/mengganti di waktu yang lain. Ketentuan serupa juga berlaku bagi wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan kondisi tubuhnya.
Namun, apabila mereka khawatir akan kondisi bayinya maka selain meng-qodho’ mereka juga harus memberikan makan kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Mereka itu berbuka bukan karena khawatir sakit, karena pada saat itu mereka dalam keadaan sehat-sehat saja. Maka sebagai penggantinya mereka harus memberikan makan kepada orang miskin sebagaimana hukum orang sehat yang memilih tidak puasa di masa awal Islam.

Sehingga ada tiga tahapan diwajibkannya puasa:

Pertama, diwajibkannya puasa dengan disertai pilihan lain (antara puasa atau memberikan makan, pent).

Kedua: diwajibkannya puasa saja; akan tetapi ketika itu orang yang berpuasa dan tertidur sebelum berbuka maka dia tidak boleh makan dan minum hingga datang malam berikutnya.

Kemudian hukum ini dihapus dengan tahapan ketiga, yaitu sebagaimana yang sudah menjadi aturan baku dalam syari’at dan berlaku hingga hari kiamat.”
(lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/331])

Sumber : http://abumushlih.com/kewajiban-puasa-ramadhan.html/

Minggu, 20 Mei 2012

Akhir perjalanan hidup ini

Untaian Syair Zainal Abidin -rohimahulloh- 

لَيْس الغرِِيبُ غرِيبَ الشَّامِ وَاليمنِ           إنَّ الغَريب غَريبُ اللحْد والكَفَنِ
Orang asing bukanlah orang yg merantau ke negeri syam atau yaman
Tp orang asing adl, org yg asing dalam liang lahad bersama kain kafan

إنَّ الغريبَ لَهُ حَق لِغُربَتِهِ              علَى المُقِيمينَ فى الأوْطَانِ والسَّكَنِ
Sungguh orang yang terasing memiliki hak yang harus dipenuhi
Oleh penduduk daerah yang sedang dilaluinya

لاَ تَنْهَرَنّ غَرِيْباً حَالَ غُرْبَتِهِ                      الدَّهْرُ يَنْهَرُهُ بِالذُّلِّ وَالْمِحَنِ
Janganlah kau hardik orang asing ketika sedang dalam perantauan
Karena masa telah menghardiknya dengan kehinaan dan berbagai cobaan

سَفْرِي بَعِيْدٌ وَزَادِي لَنْ يُبَلِّغَنِي                  وَقُوَّتِي ضَعُفَتْ وَالْمَوْتُ يَطْلُبُنِي
Perantauanku jauh… padahal bekalku tidak mencukupi
Kekuatanku semakin rapuh… sedang kematian terus mencariku

وَلِي بَقَايَا ذُنُوْبٌ لَسْتُ أَعْلَمُهَا                  اللهُ يَعْلَمُهَا فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ
Aku tentu punya banyak sisa dosa, yang aku tak mengetahuinya
Allah mengetahui dosa-dosaku yang tersembunyi di saat bersendirian atau yang nampak

مَا أَحْلَمَ اللهَ عَنِّي حَيْثُ أَمْهَلَنِي                وَقَدْ تَمَادَيْتُ فِى ذَنْبِي وَيَسْتُرُنِي
Betapa sayangnya Alloh padaku… krn telah menangguhkan hukuman-Nya
Bahkan Dia tetap menutupi dosaku… meski aku terus melakukannya

تَمُرُّ سَاعَاتُ أَيَّامِي بِلاَ نَدَمِ                      وَلاَ بُكَاءٍ وَلاَ خَوْفٍ وَلاَ حَزَنِ
Hari-hariku terus berjalan (dan aku terus melakukan dos-dosa)
Tanpa ada rasa penyesalan, tangisan, ketakutan, ataupun kesedihan

أَنَا الَّذِى أَغْلَقَ الأَبِوَابَ مُجْتَهِدًا                  عَلَى الْمَعَاصِي وَعَيْنُ اللهِ تَنْظُرُنِي
Akulah orang telah menutup pintu
Untuk giat dalam maksiat, padahal Mata Alloh selalu mengawasiku

يَا زَلَّة كُتِبَتْ فِي غَفْلَةٍ ذَهَبَتْ                  يَا حَسْرَة بَقِيَتْ فِي الْقَلْبِ تُحْرِقُنِي
Salah sudah tercatat, dalam kelalaian yang telah lewat
Dan sekarang, tinggal penyesalan di hati yg terus membakar diriku

دَعْنِي أَنُوْحُ عَلَى نَفْسِي وَأَنْدُبُهَا                 وَأَقْطَعُ الدَّهْرَ بِالتَّذْكِيْرِ وَالْحَزَنِ
Biarkanlah aku tangisi jiwaku dan meratapinya  
Dan aku isi masa hidupku dengan muhasabah dan kesedihan 

دَعْ عَنْكَ عَذْلِي يَا مَنْ كَانَ يَعْذُلُنِي             لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا بِي كُنْتَ تَعْذُرُنِي
Wahai orang yang selalu menghinaku, tinggalkan hinaanmu!
karena jika kau tahu keadaanku, tentu kau member udzur kepadaku

دعني أسِحّ دموعا لا انقطاع لها                 فهل عسى عبرة منها تخلصني
Biarkanlah ku usap linangan air mata, yang tak mau berhenti ini
Maka adakah tetesan air mata ini, dapat menyelamatkan diri?!

كأنني بين كل الأهل منطرحا                   على الفراش وأيديهم تقلبني
Dan seakan-akan aku sekarang
tergeletak tak berdaya diatas ranjang
di hadapan seluruh sanak keluarga
yang membolak-balikkan tubuhku dengan tangan mereka

وقد تجمع حولي من ينوح ومن                يبكي عَلَيّ وينعاني ويندبني
Lalu berkumpullah di sekelilingku, orang yang meratapiku dan
menangisiku 

وقد أتوا بطبيب كي يعالجني                   ولم أرى الطب هذا اليومَ ينفعني
Mereka telah mendatangkan tabib untuk mengobatiku
Tapi aku yakin, saat ini ia takkan mampu menyembuhkanku

واشتد نزعي وصار الموت يجذبها              من كل عرق بلا رفق ولا وهن
Selanjutnya nafasku semakin tak karuan
Ajal mulai merenggutku, dr setiap urat nadi, dg tanpa keramahan & kehalusan

واستخرج الروح مني في تغرغرها              وصار ريقي مريراً حين غرغرني
Kemudian kematian mengeluarkan nyawaku dariku yang pada saat nyawaku di kerongkongan
saat itu ludahku menjadi terasa pahit

وغمضوني وراح الكل وانصرفوا               بعد الإياس وجَدُّوا في شرا الكفن
Mereka pun menutup mataku  lalu pergilah mereka seluruhnya
Tatkala mereka putus asa maka merekapun berpaling dariku untuk membeli kafan

وقام من كان حِبَّ الناس في عجل             نحو المغسل يأتيني يغسلني
Orang yang dulunya paling ku kasihi
Segera mencari pemandi mayat untuk memandikan mayatku

وقال يا قومُ نبغي غاسلاً حذقاً                 حراً أديباً أريباً عارفاً فطن
Dia mengatakan: Wahai kaumku, kami ingin pemandi mayat yg lihai
merdeka, ahli syair, cerdas, mengerti, dan pandai

فجاءني رجل منهم فجردني                    من الثياب وأعراني وأفردني
Akhirnya datanglah seorang dari mereka menghampiriku
ia melepas pakaianku, menelanjangiku, dan menyendirikanku

وأودعوني على الألواح منطرخا                 وصار فوقي خرير الماء يُنظِفُني
Dengan terlentang di gerabah, ia membiarkanku
sedang pancuran air yang akan membersihkan ada di atasku

وأسكب الماء من فوقي وغسلني                غسلا ثلاثا ونادى القومَ بالكفن
Ia pun mengucurkan air dari atasku, dan membilasku dengan tiga bilasan
Setelah itu, ia meminta orang-orang agar mendatangkan kain kafan

وألبسوني ثياباً لا كمام لها                      وصار زادي حنوطي حين حنطني
Orang-orang itu memakaikan padaku pakaian yang tanpa lengan
Dan jadilah bekalku hanya parfum kematian, saat mereka memarfumiku

وأخرجوني من الدنيا فوا أسفاه                 على رحيل بلا زاد يبلغني
Mereka kini telah mengeluarkanku dari dunia… Duhai malangnya aku
Sebagai seorang perantau tanpa bekal yang dapat mengantarkanku

وحملوني على الأكتاف أربعة                   من الرجال وخلفي من يشيعني
Mulailah 4 lelaki mengangkat jasadku di atas pundak
Dan di belakangku terlihat para pelayat yang mengarak

وقدموني إلى المحراب وانصرفوا                  خلف الامام فصلى ثم ودعني
Mereka lalu meletakkanku di mihrob depan
Lalu ke belakang imam untuk sholat & mengucapkan kata perpisahan

صلوا عليّ صلاة لا ركوع لها                  ولا سجود لعل الله يرحمني
Mereka menyolatiku, dg sholat yg tanpa ada ruku’ dan sujudnya
Dengan iringan doa semoga Alloh mencurahkan padaku rahmat-Nya

وأنزلوني إلى قبري على مَهَل                    وقدموا واحدا منهم يلحدني
(Sampai di kuburan), mereka menurunkanku ke kuburan dengan perlahan
Dan mulailah salah satu dari mereka memasukan aku ke liang lahat

وكشّف الثوب عن وجهي لينظرني             وأسبل الدمع من عينيه أغرقني
Dia membuka kain yg menutupi wajahku untuk melihatku
Hingga mengucur dari kedua matanya, air yg mampu menenggelamkanku

فقام محترما بالعزم مشتملاً                     وصفّف اللَبْن من فوقي وفارقني
Ia lalu berdiri dg penuh hormat… Dan dengan tekad yang bulat…
ia menata bata di atasku… lalu beranjak meninggalkanku…

وقال هُلُّوا عليه الترب واغنتموا                 حسن الثواب من الرحمن ذي المنن
Ia mengatakan: “Uruklah dia dengan tanah kuburan
Dan raihlah pahala kebaikan dari Ar-Rohman, yg memiliki banyak pemberian!

فى ظلمة القبر لا أمٌّ هناك ولا                   أب شفيق ولا أخ يؤنسني
Di liang kubur yang gelap itu, tak ada bapak yang penyayang
Tak ada ibu, atau pun saudara yang dapat membuatmu senang

وهالني صورة فى العين إذ نظرت               من هول مطلع ما قد كان أدهشني
(Stlh itu) datanglah sosok yg membuatku gemetar, saat mata ini menatapnya
Karena tampang yang sangat menakutkan orang yg melihatnya

من منكر ونكير ما أقول لهم                   قد هالني أمرهم جداً فأفزعني
Itulah malaikat Munkar dan Nakir… Apa yg akan ku katakan pada mereka?!
Di saat mereka benar-benar telah membuatku sangat takut dan kaget tiada tara

وأقعدوني وجَدُّوا في سؤالهم                   مالي سواك إلهي من يخلصني
Mereka mulai mendudukkanku, dan mengintrogasiku
Sungguh ya Tuhan, tiada seorang pun selain Engkau yg dpt menyelamatkanku

فامنن عليّ بعفوٍ منك يا أملي                  فإنني موثق بالذنب مرتَهَن
Maka berikanlah maaf-Mu padaku, wahai Harapanku
Sungguh aku sekarang terjerat & tergadai oleh dosa-dosaku

تقاسم الأهل مالي بعدما انصرفوا               وصار وزري على ظهري فأثقلني
Adapun keluargaku… setelah pulang, mereka membagi-bagi hartaku
Di lain sisi, dosa-dosaku menjadi semakin terasa berat di pundakku

واستبدلت زوجتي بعلاً لها بعدني               وحكمته على الأموال والسكن
Sedang istriku… ia mencari suami lain yang menjadi pengganti sepeninggalku
Lalu menyerahkan kekuasaan harta & rumah padanya (yg dulunya adlh milikku)

وصيرت ولدي عبداً ليخدمها                  وصار مالي لهم حلاّ بلا ثمن
Adapun anakku… mereka berubah menjadi budaknya yg harus melayaninya
Sedang hartaku… sekarang semuanya menjadi halal & barang gratis utk mereka

فلا تغرنك الدنيا وزينتها                      وانظر إلى فعلها في الأهل والوطن
Oleh karena itu, janganlah engkau terkecoh dengan dunia & perhiasannya!
Lihatlah apa yang diperbuat  dunia kepada tempat tinggal dan penghuninya

وانظر إلى من حوى الدنيا بأجمعها              هل راح منها بغير الحنط والكفن
Lihatlah orang yang berhasil mengumpulkan dunia seisinya
Apakah ia akan pergi dari dunia dg selain hanuth & kafannya?!

خذ القناعة من دنياك وارض بها                لو لم يكن لك إلا راحة البدن
Bersikaplah qona’ah dan rela terhadap dunia!
walau kau hanya memiliki badan yang sehat (dan hidup sederhana)

يا زارع الخير تحصد بعده ثمراً          يا زارع الشر موقوف على الوهن
Wahai penanam kebaikan… pasti kau nanti akan memanen buahnya
Wahai penanam keburukan… pasti kau akan dimintai tanggung jawabnya

يا نفس كفي عن العصيان واكتسبي              فعلا جميلا لعل الله يرحمني
Wahai jiwa ini, berhentilah menjalani maksiatmu
Dan mulailah beramal yang baik, semoga Alloh merahmatimu

يا نفس ويحك توبي واعملي حسنا           عسى تجازَيْن بعد الموت بالحسن
Wahai jiwa ini, segeralah bertaubat dan lakukanlah kebaikan
Semoga engkau raih balasan kebaikan, saat melewati kematian

ثم الصلاة على المختار سيدنا                 ما وضَّأَ البرق فى شام وفي يمن
Semoga sholawat tercurahkan kepada Nabi yang terpilih dan mulia
Selama kilat masih menerangi negeri Syam dan dataran Yaman

والحمد لله ممسينا ومصبحنا               بالخير والعفو والإحسان والمنن
Segala puji bg Alloh, yg ketika pagi & sore selalu memberi kita kebaikan
Juga maaf, ke-ihsan-an, dan banyak lagi pemberian

Alih bahasa oleh: Musyaffa' Addariny, Lc di Madinah, 21 /11/1430 H (dengan sedikit editan oleh Firanda)