Page

Rabu, 19 Desember 2012

Penantian

ketika dirimu sedih dalam kesendirianmu, maka ingatlah bahwa dirimu bersama Rabbmu,
 Allah Subhanahu wa Ta'ala...
buakankah Allah lebih dekat dari urat leher kita...
lalu mengapa dirimu masih merasa bersedih hati akan masa kesendirianmu...


masa penantian itu memang tak mudah namun hal itu akan menjadi berkah jika dirimu dapat memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin, gunakan waktumu itu untuk menuntut ilmu, ilmu yang bermanfaat untuk akhirat dan dunia kita...

mari kita jawab, satu persatu pertanyaan-pertayaan ini, jawablah dengan hati...
bagaimana bacaan Al Qur'an mu, apakah sudah benar? bagaimana sholatmu apakah sudah benar? sudah berapa hafalan Al Qur'an dan Haditsmu, apakah kamu mengerti dan memahami akan arti dari Al Qur'an dan Hadits yang telah kamu hafal? Bagaimana Bahasa Arabmu, sudah mahir atau malah belum bisa sama skali? bagaimana pemahaman tentang ilmu agamamu yang menjadi pondasi dalam hidupmu, apakah sudah benar dalil-dalil yang kamu gunakan, atau malah tidak tahu dalil sebagai acuan ibadahmu? bagaimana ilmu mu tentang pernikahan, tentang menjadi seorang istri sholihah, dan menjadi seorang ibu yang bisa mendidik anak-anakny dan menjadikan sebuah keluarga yang Rabbani, apakah kamu sudah mempelajarinya?

dari beberapa pertanyaan tersebut dapat menjadi parameter untuk diri kita, haruslah kita berkaca, duhai diri ini yang masih menanti, apakah pantas seseorang yang ingin membentuk suatu mahligai pernikahan namun, masih cetek dalam pemahaman ilmu agama sebagai pondasi untuk hidup di dunia, bagaimana bisa ingin segera menikah namun ilmu tentang pernikahan saja belum pernah dibaca, atau dibaca namun tanpa memahaminya? bukankah menikah itu bukan hal yang sepele, dimana kamu telah membuat suatu penerus generasi masa depan, menyatukan 2 keluarga yang berbeda karakter, dan menyatukan 2 hati yang berbeda sehingga menjadi satu dalam keselarasan jalan Rabbnya? mengapa kita menyepelekan hal itu? hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah dan bukan pula sesuatu yang sulit, karena dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjalankan sunnah-sunnah dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan berbakti kepada kedua orang tua serta menuntut ilmu syar'i itu menjadi salah satu kuncinya, Agar Allah meridhoi dapat segera dipertemukan dengan jodoh kita yang sejati, sebagai pemenuh agama kita dan diri kitapun sebagai pelengkap untuk tulang rusuk mereka...

Duhai dirimu yang masih terjaga, yang masih menanti pula, jagalah hatimu jagalah kesucianmu, walaupun Allah Subhanahu wa Ta'ala belum mempertemukan kita, namun diri ini berharap dalam penantian yang bersamaan ini, mari kita sama-sama memperbaiki diri kita, menjadi seseorang yang walau tak sempurna di mata manusia, namun kita berusaha untuk menjadi seseorang yang sempurna di mata Allah, Cukuplah Allah, dan hanya Allah yang tahu tentang diri kita...
diri ini disini menantimu penuh harapan, agar Allah Subhanahu wa Ta'ala mempertemukan kita dalam kebaikan berjalan bersama-sama menuju Surga-NYA... aamiin

mengutip perkataan ibunda imam ahmad Rahimahullah Ta'ala : “Sesungguhnya Allah jika dititipi sesuatu, Dia akan selalu menjaga titipan tersebut. Jadi, aku titipkan dirimu kepada Allah yang tidak akan membiarkan titipannya terlantar begitu saja.’

Selasa, 16 Oktober 2012

RENUNGAN IDUL QURBAN (Qurban Untuk Emak)

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba h

ampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yang itu berapa Pak?”.

“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.


Semoga Bermanfaat ...

Silahkan saudara-saudariku yang baik, yang mau share atau co-pas, dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Semoga pula Allah Ta'ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamiin, Aamiin, Aamiin ya Alloh ya Rabbal’alamin …


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=338923862869395&set=a.194645200630596.42122.189052644523185&type=1&comment_id=705127&ref=notif&notif_t=photo_comment&theater

Selasa, 04 September 2012

Ketika Mulai “Ngaji”: Terlalu Semangat, Keras dan Kebablasan


Kami sempat melakukanya di awal-awal kami mengenal dakhwah ahlus sunnah wal jama’ah karena kebodohan kami akan ilmu. Kemudian kami ingin membagainya supaya ikhwan-akhwat bisa mengambil pelajaran dan mengingatkan mereka yang telah lama mengenal anugrah dakwah ahlus sunnah khususnya  kami pribadi. Beberapa hal tersebut ada sepuluh berdasar pengalaman kami:
  1. Merasa lebih tinggi derajat dan akan terbebas dari dosa karena sudah merasa mengenal Islam yang benar.
  2. Terlalu semangat menuntut ilmu agama sampai lupa kewajiban yang lain.
  3. Kaku dalam menerapkan ilmu agama padahal Islam adalah agama yang mudah.
  4. Keras dan kaku dalam berdakwah.
  5. Suka berdebat dan mau menang sendiri bahkan menggunakan kata-kata yang kasar.
  6. Menganggap orang di luar dakwah ahlus sunnah sebagai saingan bahkan musuh.
  7. Berlebihan membicarakan kelompok tertentu dan ustadz/ tokoh agama tertentu.
  8. Tidak serius belajar bahasa arab.
  9. Tidak segera mencari lingkungan dan teman yang baik.
  10. Hilang dari pengajian dan kumpulan orang-orang yang shalih serta tenggelam dengan kesibukan dunia.

Minggu, 02 September 2012

Calon Jenazah itu Saya dan Anda

Saya dan Anda adalah ... CALON JENAZAH.
Sekarang kita sedang menunggu gilirannya ...




Kita semua pasti meyakini kalau kematian akan menghampiri. Tetapi gemerlap dunia menyilaukan mata hati, membuat seseorang terlena dan bahkan tersesat. Seluruh angan dan ambisi akan dibatasi satu kata; ajal! Selanjutnya sikap terhadap dunialah yang menentukan status liang kubur, apakah menjadi sepetak taman surga atau justru sepercik api neraka.

Hari ini manusia mengejar keuntungan dunia, seolah tujuan penciptaan mereka untuk bersaing mendapatkan dan mengumpulkannya. Mereka melupakan suatu hari ketika kembali kepada Allah.

Kesadaran penuh akan datangnya kematian, dan sikap yang benar dalam menyambutnya dengan mengisi amal shalih adalah kunci kebahagiaan hidup di akhirat, sebuah negeri yang tak pernah mati. Tetapi kita memang mengherankan. Membangun kehidupan dunia, padahal akan kita tinggalkan; merobohkan bangunan akhirat, padahal di situ kita akan tinggal selamanya.

Segalanya kita kerahkan untuk meraup sekeping kenikmatan dunia yang tak lebih dari sekedar air yang menetes dari jari yang baru saja diangkat dari samudra, bila dibandingkan samudra itu sendiri. Padahal, dunia adalah fata morgana. Di bawah bayang-bayang fatamorgana itulah, kita semua bernaung menanti ditiupnya peluit kematian.

Maka mulai sekarang, tentukan nasib kita setelah kematian; apakah ajal kita menjadi proses membahagiakan bernama khusnul khatimah ataukah memilukan sekaligus mengerikan bernama su'ul khatimah.

Dahulukan Akhirat maka Dunia Akan Mengikuti

 

Terbukti, Allah Ta’ala Tidak Akan Pernah Menyengsarakan Hamba-Nya yang Bertakwa

Tepat setelah Ramadhan ada seorang yang bercerita kepada penulis: “Ramadhan tahun ini saya berpuasa, tidak seperti tahun lalu sibuk kerja akhirnya tidak puasa dan shalat, saya ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya relakan untuk berhenti kerja, karena pekerjaan tersebut membuat saya tidak shalat, tidak puasa, tidak dekat dengan Allah Ta’ala, saya ingin lebih berbakti kepada orangtua, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu membangkang, menganggap remeh perkataan orangtua, Alhamdulillah…Allah memberi petunjuk bisa mengisi Ramadhan dengan lebih beribadah, dan bakti kepada kedua orangtua, lebih mengetahui hakikat kehidupan dunia, meskipun ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati…”akankah saya mendapat pekerjaan?!”, ternyata setelah Ramadhan berlalu, jangankan mencari pekerjaan, bahkan saya ditawari…, bahkan dua pekerjaan sekaligus!! He he he, sampai bingung memilihnya…Alhamdulillah… semoga iman ini bisa istiqamah sampai ajal menjemput.”
Setelah mendengar cerita tersebut, saya teringat beberapa hal, semoga bermanfaat terutama bagi penulis dan juga saudara-saudaraku kaum muslim…

1. Terbuktikan…

Bahwa Allah Ta’ala tidak akan pernah menyengsarakan hamba-Nya yang taat kepada-Nya, jauh dari maksiat-Nya

{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ } [المائدة: 6]

Artinya: ”Allah tidak hendak menyulitkan kamu”. QS. Al Maidah

{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ } [الحج: 78]

Artinya: “dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” QS. Al Hajj: 78.

2. Terbuktikan…
Bahwa Allah tidak akan pernah menyengsarakan hamba-Nya di dalam syari’at-syari’at-Nya.

{ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} [البقرة: 185]

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” QS. Al Baqarah: 185.

3. Terbuktikan…
Kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa orang yang cita hidupnya adalah akhirat, maka niscaya dunia akan datang kepadanya dalam keadaan ia menolaknya…
Demi Allah! Itu semua terbukti sobat… bahkan dunia terasa didorong-dorong untuk mendekat kepada kita, dunia itu seakan dipaksa untuk mendekat kepada kita…walhamdulillah…

عَنْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ ».

Artinya: “Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dunia adalah cita-citanya, niscaya Allah akan cerai beraikan usahanya, menjadikan kefakirannya di depan matanya dan tidaklah dunia sampai kepadanya kecuali yang telah dituliskan untuknya dan barangsiapa yang niatnya adalah akhirat, niscaya Allah akan menguatkan baginya usahanya dan menjadikan kekayaannya pada hatinya serta dunia mendatanginya dalam keadaan dipaksa.” HR. Ibnu Majah.



Tujuan dari tulisan ini adalah kembali mengingatkan kepada diri penulis dan saudarnya dari kaum muslim, bahwa:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} [الطلاق: 2، 3]

Artinya: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar."

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. Ath Thalaq: 2-3. Semoga bermanfaat. wallahu a'lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Ahad, 8 Syawwal 1433H, Dammam KSA.
Dakwah Sunnah